Dunia Maritim

Dunia Maritim

02 January 2019

Pelabuhan Berbasis Digital dan Konsepsi Smart Port

Pada tanggal 26 September 2018 yang lalu, berlangsung diskusi kelompok terarah antar para pelaku usaha di lingkungan pelabuhan Banjarmasin. Forum yang diprakarsai Insan Lintas Maritim Club (ILMC) Banjarmasin tersebut mengangkat tema “Sistem pelayanan secara online di lingkungan Pelabuhan Banjarmasin”.

Tema tersebut sangat menarik di tengah maraknya digitalisasi industry 4.0 yang mewabah di mana-mana. Salah satu cirinya adalah serba online dan data digital sebagai pengganti data manual sehingga teknologi komputer dan internet adalah vital.

Pada saat yang sama, dunia kemaritiman juga dikembangkan adanya konsep  smart port, yang kurang lebih sama dengan upaya digitalisasi layanan operasional berbasis internet. Siapkah Pelabuhan Banjarmasin dan pemangku kepentingan melaksanakan tuntutan teknologi ini? Bagaimana tantangan ke depan dan alternatif solusi yang bisa ditawarkan?


Akurasi Data
Smart port pada dasarnya pelabuhan cerdas yang ditopang teknologi digital sehingga efisiensi tinggi, kompetitif, bernilai tambah bagi masyarakat sekitar, otomatisasi di segala bidang, dan pada akhirnya pelabuhan akan meningkatkan aspek ramah lingkungan, standar keselamatan dan keamanan yang semakin baik, serta produktivitas meningkat. Jika pada tahun 2018 ini Banjarmasin melakukan upaya sistem online untuk layanan operasional, maka pada tahun 2015 telah dilakukan Atlantic Stakeholder Platform Conference dari Masyarakat Eropa (Europe Commission) yang merekomendasikan untuk ditumbuhkembangkan konsepsi smart port tersebut.

Dengan kata lain, upaya pemangku kepentingan pelabuhan Banjarmasin untuk sistem online layak diapresiasi. Meski demikian, ada tantangan nyata terkait akurasi data dengan penjelasan sebagai berikut;

Pertama, hendaknya data terintegrasi lintas instansi, termasuk dari swasta, semestinya dijamin akurat sehingga lebih terjamin terhadap validitas data operasional. Sebagai contoh, data di bill of lading atau daftar muatan kapal, semua perlu divalidasi sehingga volume dan jenis barang sesuai dengan yang ada di lapangan. Indonesia memang dipercaya semakin baik dari sisi tata kelola pemerintahan, namun di lapangan tetap perlu saling kroscek untuk meningkatkan akurasi data. Jika layanan online hanya menggantungkan data yang dientry oleh petugas lapangan dari mitra, proses verifikasi tetap diperlukan sehingga kesesuaian data antara dokumen dengan lapangan akan semakin baik.

Kedua, kesadaran untuk objektif terhadap data masih perlu untuk secara terus menerus diupayakan. Sebagai contoh, komponen pentarifan untuk komoditas peti kemas sudah berjalan lama objektif dan sangat baik. Namun untuk barang curah dan kargo umum (general cargo),  kiranya perlu untuk selalu ditingkatkan proses kroscek data barang. Jika data barang dientry seketika  secara online, sementara dokumen fisik belum teruji validitasnya, maka ini menjadi tantangan nyata karena risiko terjadi selisih antara data entry online dengan data lapangan.

Ketiga, sistem online menuju upaya realisasi konsep smart port memang masih memerlukan cek dan kroscek. Pada satu sisi layanan online diyakini akan mengurangi perjumpaan fisik orang, yang berpotensi adanya konflik kepentingan. Namun data entry pada layanan online, masih memerlukan verifikasi, yang bila diterapkan formula 24/7, atau 24 jam 7 hari kerja selama seminggu non stop, maka dapat dibayangkan jika data dientry pukul 2300 layanan diminta jam 0200 sementara data yang dientry masih harus proses verifikasi.

Alternatif Solusi
Layanan online sebagai bagian dari evolusi layanan operasional menuju  smart port, memang masih membutuhkan dukungan semua pihak. Sebagai alternatif solusi dapat dilakukan sebagai berikut;  

Pertama, semua pekerja ditingkatkan kejujuran dalam melakukan data entry, sekaligus juga mengurangi risiko fatigue (kelelahan fisik). Data tidak akurat bisa saja bukan disebabkan petugas entry tidak jujur, melainkan karena fisik yang kelelahan. Data yang tidak akurat ini berpotensi mengurangi PAD (pendapatan asli daerah), bila data terkait dengan tarif berbasis pada PERDA. Jika skala nasional, berisiko terhadap pengurangan pajak yang mengakibatkan pendapatan negara berkurang.

Kedua, data lintas instansi pada periode tertentu kemungkinan masih memerlukan proses kroscek bersama sebelum tutup buku periode kinerja tertentu. Misalnya kinerja mingguan, bulanan, triwulan, semester, dan setahun. Ini untuk mengurangi risiko adanya gap data antara data administrasi dengan data lapangan. Termasuk, risiko selisih antar dokumen.

Ketiga, mengedukasi semua elemen masyarakat terhadap arti penting kejujuran dan disiplin berkontribusi kepada negeri. Slogan manis mungkin sering kita dengar. Namun pragmatis di lapangan masih dapat kita jumpai, di mana keberpihakan kita terhadap teman ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan komitmen kita terhadap pembangunan negeri. Seharusnya, teman ya teman namun kepentingan negara tetap menjadi prioritas utama.

Menuju konsepsi smart port, layanan online adalah tahapan yang sangat baik untuk menuju kecepatan layanan, efisiensi, dan produktivitas. Namun kita masih perlu untuk meningkatkan upaya-upaya sehingga akurasi data, kecepatan layanan, dan standar kinerja dapat dicapai.

Pelabuhan Banjarmasin adalah bagian dari mata rantai logistik nasional. Para pemangku kepentingan perlu untuk secara bersama-sama meningkatkan disiplin diri dalam era digitalisasi kepelabuhanan dewasa ini. Di balik itu semua, peremajaan armada angkutan yang lebih eco friendly juga menjadi tantangan nyata. Emisi gas buang yang masih perlu distandardisasikan untuk mencegah polusi lingkungan, juga masih perlu untuk terus didengungkan.

Pada suatu ketika, kita boleh bangga bila sudah masuk era di mana  smart port  dapat diterapkan secara optimal di lingkungan Pelabuhan Banjarmasin. Akurasi data, jaminan keamanan dan keselamatan, online system, eco friendly, green port, adalah kata kata kunci menuju pelabuhan modern. Meskipun diyakini komitmen untuk meningkatkan kienrja lapangan tetap diperlukan lebih baik lagi, kita dapat membayangkan konsepsi ideal adanya smart port antara lain: navigasi real time, pembangkitan daya listrik yang ramah lingkungan, moda angkutan truk dan kereta yang dapat dimonitor dan dikendalikan secara digital, sensor-sensor otomatis untuk crane, container, dan lainnya, pemeliharaan alat yang tepat guna tidak semata hemat biaya, dan monitoring kinerja kepelabuhanan jarak jauh dengan teknologi digital dan otomatisasi.  

Layanan online yang sudah digencarkan di Pelabuhan Banjarmasin, perlu secara bersama-sama kita dukung dengan beragam aktivitas nyata untuk meningkatkan kinerja operasional pelabuhan. Selamat berjuang, semoga semakin maju melaju negaraku. (Nugroho Dwi Priyohadi)