Dunia Maritim

Dunia Maritim

12 June 2019

Perlu Pemikiran Pintar untuk Smart Port

Digitalisasi pelabuhan sangat potensial untuk meningkatkan efisiensi pada seluruh jaringan rantai pasok. Namun ternyata kuncinya adalah pada perubahan pola pikir, bukan semata faktor teknis. Hal itu terungkap pada panel diskusi para ahli dalam acara Lloyd’s List Singapore Maritime Week Forum, April lalu. Meski kompleksitas yang paling sering dibahas ialah tentang perbedaan standar dan sistem data yang membuat tantangan teknis dalam proses pertukaran data yang efisien. Tantangan terbesarnya tetap pada bagaimana meyakinkan seluruh pemangku kepentingan agar berbagi nilai (value) dari penggunaan data bersama. Terutama terkait isu transparansi dan kolaborasi sistem.

Partner & Managing Director The Boston Consulting Group, Sanjaya Mohottala, menanggapi isu terkait value creation tersebut, menurutnya pemain dalam industri perlu memulai pemikiran yang lebih holistik tetang apa yang dapat dicapai dengan penerapan teknologi baru. Bahkan kini pasar mulai banyak mendapatkan suplai peralatan dengan teknologi baru. Meski banyak diantaranya belum bisa diaplikasikan secara universal. Dalam bisnis pelabuhan memang sangat unik, mode operasional dan perlengkapan bisa sangat berbeda. “Pemilihan komponen juga harus mempertimbangkan ekosistem pelabuhannya, yakni otoritas pelabuhan, pelabuhan di sekitarnya, hingga penyedia jasa logistik. Setelah selesai dengan peralatan, baru bicara tentang big data, internet of things, dan konektivitas platform,” ujarnya.

Chief Executive Synergy Marine Group, Capt. Rajesh Unni, mengingatkan bahwa pekerja di pelabuhan harus tahu bagaimana mengelola, membaca, dan memanfaatkan data. “Apakah mengusasi data menjadi raja bila tidak tahu bagaimana memanfaatkannya? Inilah pemikiran yang harus diubah,” ujarnya.

Penasihat Teknis Senior di ABS Advanced Solutions, Cris DeWitt, mengungkapkan adanya tantangan lain. Ada bahaya ketika kita memiliki sistem yang kohesif yang mengoneksikan banyak pihak, namun pencabutan satu pihak bisa mengganggu sisanya. “Kemudian ada risiko siber yang perlu diperhatikan. Karena otomasi level tinggi akan sulit mengakomodasi sistem pengamanan siber pada seluruh bagiannya. Maka pemilik data juga dituntut untuk mengelola risiko siber dari kontribusi datanya masing-masing. “Mewujudkan pelabuhan yang pintar itu artinya harus melibatkan pengamanan siber di tahap awal dan ketika memulai jalur rantai pasok,” pesannya. (Disarikan dari Lloyd’s List oleh Hafidz Novalsyah).

Quote: “Apakah mengusasi data menjadi raja bila tidak tahu bagaimana memanfaatkannya? Inilah pemikiran yang harus diubah.” - Capt. Rajesh Unni